Batang Hari, 13 Agustus 2026 — Santri Pondok Pesantren Darusy Syafiiyah turut berpartisipasi dalam kegiatan Musyawarah Gabungan Kitab Fathul Qorib yang dilaksanakan pada Kamis, 13 Agustus 2026, bertempat di Pondok Pesantren Minhajussa'adah, Desa Pelayangan, Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batang Hari.
Kegiatan tersebut mengangkat tema “Meningkatkan Ukhuwah Ilmiyah & Menjaga Tradisi Ulama Salafus Sholih”. Musyawarah menjadi ruang penting bagi para santri untuk memperdalam pemahaman terhadap khazanah keilmuan Islam, khususnya kajian kitab Fathul Qorib, sekaligus membangun budaya diskusi dan tradisi intelektual di lingkungan pesantren.
Keikutsertaan santri Pondok Pesantren Darusy Syafiiyah menjadi bagian dari upaya menumbuhkan semangat belajar, keberanian menyampaikan pendapat, kemampuan memahami teks keislaman, serta sikap terbuka dalam berdiskusi. Melalui forum seperti ini, santri tidak hanya dituntut untuk menguasai materi secara teoritis, tetapi juga belajar menyampaikan argumentasi dengan landasan keilmuan dan adab yang baik.
Musyawarah gabungan juga memiliki nilai strategis dalam mempererat ukhuwah antarsantri dan antarpesantren. Pertemuan lintas pesantren memberikan kesempatan kepada para peserta untuk saling bertukar wawasan, pengalaman, serta memperluas jaringan persaudaraan dalam bingkai tradisi keilmuan pesantren.
Bagi Pondok Pesantren Darusy Syafiiyah, keterlibatan dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar untuk terus membentuk generasi santri yang berilmu, beradab, kritis dalam berpikir, dan tetap kokoh memegang tradisi keilmuan ulama salafus sholih.
Semangat kegiatan tercermin dalam pesan yang diusung panitia: “Hidup Ilmu karena Mudzakoroh, Berkah Ilmu karena Khidmah, Bermanfaat Ilmu karena Ridho Guru.” Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa ilmu tidak cukup hanya dipelajari, tetapi harus terus dimusyawarahkan, diamalkan, dihormati melalui khidmah, dan diarahkan untuk memperoleh keberkahan dari para guru.
Keikutsertaan santri Darusy Syafiiyah diharapkan semakin meneguhkan budaya mudzakarah, musyawarah, dan pengembangan wawasan keislaman, sekaligus menjadi bekal penting bagi santri dalam menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan akar tradisi pesantren.
Santri berilmu, beradab dalam bermusyawarah, kuat dalam tradisi, dan siap mengabdi untuk umat.
Humas Media DARSYA